Review Movie: Dua Garis Biru

Bahkan seorang remaja dari keluarga yang taat akan ajaran agama tetap dapat terjerumus dalam dunia kelam. Begitulah kondisi dan situasi yang dihadapi oleh Bima ( Angga Yunanda ) serta Dara ( Zara JKT48 ).

Nampaknya beragam komentar dan stigma negatif yang “tercantol” di film ini dapat ditepis dengan sempurna melalui kesuksesan filmnya di bioskop tanah air. Tema yang dibawa dalam film ini sangat dekat dengan kita, ya, permasalahan dari dua kekasih remaja yang terjemurus dalam dunia free sex yang berujung pada kehamilan diluar pernikahan.

Spoiler Alert ! Jika tidak ingin terspoiler, silahkan tinggalkan dan jangan membaca artikel ini.

Sebuah ledakan yang mengejutkan dari Gina S. Noer yang menyutradarai film ini. Sebelumnya ia juga sudah sukses membuat banyak film bermutu seperti Ayat-ayat Cinta, Hari Untuk Amanda, Posesif, Keluarga Cemara, serta Kulari Ke Pantai. Dua Garis Biru semakin memperbanyak torehan positif berkat kesuksesannya di perfilman Indonesia.

Film ini menceritakan tentang seorang pria remaja yang bernama Bima. Ia adalah seorang pelajar SMA yang berpacaran dengan Dara. Semua berjalan begitu indah pada awalnya hingga ada satu poin dimana mereka “kelepasan”.

Seperti yang biasa terjadi, Dara akhirnya mengalami kehamilan yang sangat mengejutkan. Namun yang membuat film ini terasa begitu berbobot adalah banyaknya “easter egg” yang bisa kita temukan yang merujuk pada permasalahan yang mereka hadapi. Sebut saja buah strawberry yang melambangkan besarnya janin saat baru terbentuk, kerang busuk yang menandakan ketidak perawanan seorang wanita, buah strawberry yang diblender yang menandakan tindakan aborsi dan lain sebagainya.

Film Dua Garis Biru terkesan “nyata” sebab tidak ada dramatisasi yang terjadi. Semua terasa seperti kejadian yang biasa terjadi di masyarakat. Permasalahan terus datang bahkan saat mereka batal menikah karena kedua orang tua yang tidak setuju.

Karakter yang ada di film ini berhasil menunjukkan karakternya masing-masing, satu kata untuk film ini “PERFECT”. Ya hanya kata itu yang bisa terucap melihat bungkusan film yang sangat apik dengan pesan moral yang sangat kental. Untuk lebih lengkapnya, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton bersama pasangan maupun keluarga agar kita tahu seberapa pentingnya sebuah “sex education” sejak dini.

Skor: 8.5/10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *